Selasa, 15 Oktober 2019

Assalamualaikum wr wb.
Haihai sahabat blogger dimanapun kalian berada,  semoga sahabat blogger selalu dalam lindunganNya ya.
Oiya pepatah mengatakan "tak kenal maka tak sayang" jadi aku mulai postinganku yang pertama dengan perkenalan dulu ya gaes. Kenalin nih, nama aku Imroatul Muttafiah kalau dibangku sekolah sampe detik ini dibangku perkuliahan aku sering dipanggil Imro' , kalau dirumah para sahabat , keluarga dan orang2 terdekat memanggilku Im. Hahaha , terserah deh para sahabat blogger mau manggil apa. 😁
Oke gaes, kita sudahi dulu ya  perkenalannya :) kalian cukup tau saja ya.



Oke gaes, disini Im mau membahas tentang perasaan nih, mungkin dari sahabat blogger semua sudah berpengalaman ya kalau tentang perasaan? Ataau malah belum sama sekali? Wehehe santaaii. Kita simaak curahaan hati kakak saya yang satu ini ya. Siapa tau sahabat yg disana bisa bernostalgia atau malah senasib dengan kaka ini, atau malah ada yang tidak pernah mengalami sama sekali? bisa banget tuh simak tulisan dibawah ini😁

Okey sebelum ketulisannya, Im kenalin dulu ya. Sang penulis tadi,

 Namanya M tonis dzikrullah dia yg mengarang tulisan ini gaes, dia juga seorang mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Prodi Sejaraah, yang Im bingungin gini gaes kok diaa bisa menuliss kata kata sebagus ini yaa. Apaa dia salah jurusan atau gimanaa ? Masalah ini kita skip dulu gaes kita fokus dengan karya tulisannya penasaran?
Scroll kebawah dan baca tulisan ini. Tulisan ini dengan judul

*Aku Yang (mencoba) Merelakanmu*

Merelakan adalah sebuah kewajiban di setiap perpisahan. Namun kita sadar betul, bukanlah hal mudah dan sederhana. Perpisahan adalah persoalan rumit yang tidak hanya perkara mengudar pamit dan merayakan kepergian seseorang. Masing-masing kita tidak akan pernah memahami situasi rumit ini sampai suatu hari kita ditinggalkan dan dilupakan oleh orang yang pernah benar-benar kita sayang. Kehilangan adalah pelajaran wajib yang harus diambil. Ia mengajarkan bahwa sesungguhnya sejatinya hidup adalah perpisahan itu sendiri. Ia mengatakan berkali-kali bahwa tidak ada yang benar-benar abadi, baik itu pertemuan, cinta ataupun kebersamaan. Kita akan dipaksa kehilangan dalam keadaan yang tak terduga-duga.

Kita pernah saling mencoba berniat membahagiakan satu sama lain. Berusaha menjadi yang selalu ada untuk satu sama lain. Kita pernah benar-benar saling mencinta. Hingga suatu hari, kenyataan menampakkan wajah aslinya. Menyadarkan bahwa apa saja yang kita jalin berdua adalah fana, rapuh dan tak lain adalah dusta yang disembunyikan. Sampai pada akhirnya kita saling menyakiti, menipu perasaan masing-masing, berlomba-lomba untuk menanggalkan janji yang sudah dijalin berdua dan saling berusaha menghidar satu sama lain. Barangkali inilah wujud asli dari cinta yang rapuh, harapan pedih, dan sebuah kebersamaan yang seharusnya tak perlu terjadi.

Kita kembali pada sebuah pertanyaan, pertemuan kita ada hanya untuk sebuah kebersamaan atau dipaksa menghadapi luka yang sama, yaitu merelakan. Benarkah kita bisa benar-benar bersama? Benar-benar bisa merelakan? Kita sama-sama memiliki kesempatan untuk meminta maaf dan berusaha mengembalikan kenangan indah saat bersama. Tapi lagi-lagi, apakah itu penting? Karena kita sama-sama tahu tidak ada yang benar-benar bisa menyembuhkan hati yang tersakiti. Mungkin inilah wujud asli cinta. Kita berjumpa, saling mencari perhatian, kemudian suka, memupuk harapan bersama, menyiangi harapan lebih tekun lagi agar selalu bersama, hingga dibuat kecewa oleh harapan itu sendiri. Kita akhirnya memilih menyerah dan tak benar-benar berusaha mewujudkannya. Sekarang kita paham, kenapa harus berpisah.

Celakanya, aku masih belajar untuk merelakan kebersamaan kita. Masih setia berharap padamu. Terkadang bimbang seperti cemeti, haruskan aku memperjuangkan atau merelakan. Namun aku kembali sadar, apa yang pernah kita lalu bersama adalah sesuatu yang rapuh serta melahirkan kekecewaan. Kepedihan ini adalah wujud lain dari harapan yang hancur. Sudah tidak penting lagi untuk mengubah keadaan ataupun lainnya. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menerima rasa pedih ini dengan sekuat tenaga. Setidaknya kamu tidak perlu risau karena pergi meninggalkanku. Aku pasti akan baik-baik saja. Simpan saja rasa ibamu. Agar tidak terlintas di pikiranmu untuk kembali padaku dengan rasa kasihan dan terpaksa.

Karena terpaksa menerima kembali, terpaksa mencintai lagi, terpaksa bertahan dari hubungan yang bopeng adalah sebuah kemuraman tersendiri. Dan karena itu pula aku tidak mungkin akan memaksamu. Kamu berhak mengejar kebahagiaanmu yang tertunda. Kamu tidak pernah benar-benar jadi milikku. Bukan juga milik siapapun. Bangunlah kehidupanmu sendiri sebaik-baiknya. Kita sepakat bahwa yang tersisa dari perpisahan adalah pilu.

Satu yang pasti, aku tidak akan memaksamu untuk tinggal, seperti juga kamu tidak bisa memaksaku untuk berhenti berharap.

Sekiaan sahabat tulisan curahan hati kaka tadi, mungkin sahabat blogger yang membaca ini juga sedang merasakan hal sama dan ikut baper, kalut dengan tulisan pengarang ini, tulisan ini dibuat dari lubuk hati yang paling dalam untuk kekasihnya yang jauh disana hiya hiya hiyaπŸ˜‚
Mungkin sebagian orang menganggap cinta, kasih sayang semua yang mewakili perasaan itu hal yang remeh, apalagi kaitannya dengan "Cinta" sebagian dari mereka beranggapan cinta sebagai kebutuhan dan adapula sebagian dari mereka beranggapan tanpa cinta kita juga bisa hidup. Semua itu tergantung dari sudut pndang masing masing ya sahabat 😊

Hiya hiya hiya , berhubung malam semakin larut kantuk mengangguku untuk melanjutkan pengetikan ini, Im mau pamit untuk postingan pertama ini.
Semoga yang membaca saya doakan segala urusannya dilancarkan sama Tuhan yang maha esa.
Kritik dan saran yang positif sangat Im harapkaan dari kalian semua sahabat bloggerku. Dan disini Im juga berterimakasih untuk para sahabat yang sudah mensuport saya sampai bisa mengetik seniat ini hahaha.
Terimakasih atas perhatiannya, salam jauh dariku Sahabat, semoga bermanfaat selamat malam :)πŸ€—
Wassalamualaikum wr wb.